SEJARAH NABI MUHAMMAD (SIRAH NABAWIYAH) KEADAAN JAZIRAH ARAB SEBELUM NABI MUHAMMAD DILAHIRKAN II. IBRAHIM, ISMAIL DAN SYARIAT QURBAN
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi
menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku,
anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi
itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami
tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim
itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)
“Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami
yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)
Setelah lama tidak bertemu istrinya Hajar dan putranya
Ismail, Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam merasa sangat rindu, akhirnya beliau berangkat dari
palestina menuju makkah, keadaan makkah pada saat itu sudah berbeda, bukan
daerah yang gersang dan sepi lagi, tapi sudah menjadi sebuah perkampungan yang
ramai, Hajar dan Ismail adalah tokoh yang dihormati penduduk makkah karena
mereka berdua adalah pemilik sumur zam zam.
Usia Ismail pada saat Nabi Ibrahim
‘alaihissalam berkunjung adalah usia gulam dan ia telah sampai pada usia sa’ya, yaitu
usia di mana anak tersebut sudah mampu bekerja yaitu usia tujuh tahun ke atas. Pada
usia tersebut benar-benar Ibrahim sangat mencintainya dan orang tuanya merasa
putranya benar-benar sudah bisa mendatangkan banyak manfaat.
Ketika Nabi Ismail berusia 9 tahun, pada
waktu itu bertepatan pada malam tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim
‘alaihissalam tidur dan bermimpi. Dalam mimpi tersebut, seseorang berkata
kepada beliau “Wahai Ibrahim, tepatilah janjimu!”. Setelah terbangun pada pagi
hari, beliau berpikir dan berkata pada dirinya “Apakah mimpi itu dari Allah
atau dari syetan ?”
Mimpi
tersebut hadir dalam 3 malam berturut turut, yaitu pada malam tanggal 8
Dzulhijjah (yaumut tarwiyyah atau hari tarwiyyah), tanggal 9 Dzulhijjah (yaumul
arofah atau hari arofah) dan tanggal 10 Dzulhijjah (yaumun nahr atau hari nahr).
Pada pagi harinya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
berkata pada Hajar “Pakaikanlah anakmu dengan pakaian yang bagus, karena
sesungguhnya aku akan pergi bersamanya untuk bertamu.” Lalu Hajar memakaikan
pakaian terbaik dan wewangian ditubuh Ismail, kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
dan Ismail berjalan menuju wilayah Mina dengan membawa pisau dan tali.
Iblis yang mengetahui rencana Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam berqurban putranya Ismail berusaha menggoda Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,
tapi sang Nabiyullah tidak tergoda, kemudian Iblis pergi menemui Hajar sambil
berkata “Wahai Hajar, bagaimana bisa kamu hanya duduk disini sedangkan Ibrahim
pergi bersama anaknya untuk menyembelihnya !!!”.
Hajar berkata “Kamu jangan dusta
kepadaku, mana ada seorang ayah yang tega menyembelih putranya ?”. Iblis
menjawab “Lalu untuk apa Ibrahim membawa pisau besar dan tali !!!”. Hajar
bertanya “Untuk alasan apa ia menyembelihnya ?”. Iblis menjawab “Ia menyangkan
bahwa tuhannya telah memerintahkannya untuk meyembelih anaknya !!!”. Hajar
berkata “Seorang nabi tidak diperintahkan untuk kebatilan dan aku akan selalu
percaya padanya. Nyawaku sebagai tebusan atas perkara itu, maka bagaimana
dengan anakku (tentu ia pun demikian) !!!”. Beribu-ribu rayuan dan godaan,
tetapi Iblis tak kuasa menggoda Hajar.
Kemudian ia pergi menemui Nabi Ismail
dan menggodanya “Kamu sangat senang bermain-main, tetapi ayahmu membawa pisau
besar dan tali, ia akan menyembelihmu !!!”. Nabi Ismail berkata “Kamu jangan
berbohong kepadaku, ayahku tidak akan menyembelihku !”. Iblis berkata “Ia
menyangka bahwa tuhannya telah memerintahkannya untuk menyembelihmu !!!” Nabi
Ismail berkata “Aku akan selalu tunduk dan taat terhadap perintah tuhanku !!!”.
Saat Iblis akan melontarkan perkataan lain untuk meggodanya, Nabi Ismail
mengambil batu-batu dan melemparkannya kepada Iblis sehingga mengenai mata kiri
Iblis. Kemudian Iblis pun pergi dengan kecewa dan putus asa. Nah, pada tempat
Allah mewajibkan melempar jumrah bagi orang yang melaksanakan haji dengan niat
melempar batu atau kerikil ke arah syetan dan mengikuti apa yang telah dilakukan
Nabi Ismail.
Setelah sampai di daerah Mina, Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam bertanya kepada putranya, sesuai yang termaktub dalam
Al-Qur’an:
بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
"Wahai
anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka
pikirkanlah apa pendapatmu". (As Shoffat: 102)
Ternyata jawaban Ismail terhadap
pertanyaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan jawaban orang yang bersabar dan
bertakwa pada Alloh, jawaban tersebut diabadikan oleh Alloh dalam Al Quran:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Wahai
ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, Insya’allah engkau akan
menemuiku termasuk orang-orang yang sabar" (As Shoffat: 102)
Kemudian Nabi Ismail mengucapkan wasiat
kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang isinya
1.
Ikatlah
tanganku dengan kencang agar aku tidak goyah karena itu akan menyakitkanku.
2.
Letakkan
wajahku di atas bumi agar engkau tidak memandangku sehingga engkau merasa
kasihan.
3.
Tutuplah
pakaianmu dariku agar darahku tidak mengotorinya sehingga ibuku tidak
melihatnya, karena itu akan membuatnya sedih.
4.
Tajamkanlah
bibir pisau besarmu dan percepatlah dalam menyembelih leherku agar terasa lebih
ringan karena sesungguhnya kematian itu sangat menyakitkan.
5.
Berikanlah
pakaianku kepada ibuku sebagai pengingat diriku. Sampaikan salam dariku dan
katakana padanya “bersabarlah atas perintah Allah”.
6.
Jangan
engkau menceritakan kepada ibuku bagaimana engkau menyembelih dan mengikat
tanganku.
7.
Jangan
engkau membawa bocah kepada ibuku agar ia tidak semakin bersedih.
8.
Jika
engkau melihat seorang bocah sepertiku, maka jangan engkau terus memandanginya
sampai engkau bersedih.
Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
meletakkan Ismail dibatu besar lalu menyembelih Ismail seperti kambing
sembelihan, tapi dengan hikmah Alloh, pisau tajam yang digunakan oleh Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam tidak sanggup melukai leher Ismail sedikitpun.
Pada saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyembelih putranya Ismail, Allah membuka
tutup mata dari semua malaikat langit dan bumi, sehingga mereka mengetahui kejadian
tersebut. Kemudian mereka berlutut dan bersujud kepada Allah. Kemudian Allah
berkata “Lihatlah kalian semua kepada hambaku bagaimana ia menebaskan pisau
besar pada leher anaknya karena mengharap ridloku, sedangkan kalian berkata
ketika aku berkata :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ
خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ
الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي
أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
”(Allah
berfirman) Sesungguhnya aku akan menjadikan seorang kholifah di atas bumi.
(Malaikat berkata) Mengapa Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan
berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami selalu bertasbih
dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu". (Al Baqarah:
30)
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاء الْمُبِينُ
"Dan Kami panggil dia,
"Wahai Ibrahim” # Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu,
sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik #. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata # (As Shoffat: 104 – 106)
Seketika itu Alloh mengutus Jibril
kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sambil membawa domba besar milik Habil bin
Adam ‘alaihissalam yang masih hidup di surga atas hikmah Alloh, dan domba itu
menjadi tebusan pengganti Ismail, saat Jibril menyaksikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
masih berusaha menyembelih leher putranya, beliau bertakbir
اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ
Mendengar suara takbir Jibril, Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam membalas dengan
لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ
Ismail pun menjawab dengan
اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Segala puji bagi Alloh telah mejadikan
kebaikan atas kalimat-kalimat tersebut sehingga kalimat-kalimat tersebut
senantiasa berkumandang dalam celah-celah golongan orang-orang muslim dikala
tanggal 10 Dzul hijjah yaitu hari raya idul adha dan disyariatkannya Qurban bagi umat Muslim seluruh dunia
Allohu Akbar

0 Response to "SEJARAH NABI MUHAMMAD (SIRAH NABAWIYAH) KEADAAN JAZIRAH ARAB SEBELUM NABI MUHAMMAD DILAHIRKAN II. IBRAHIM, ISMAIL DAN SYARIAT QURBAN"
Post a Comment